Wahai laki-laki hebatku..
Malam ini telah kutemukan kemana kuharus melangkah
aku ingin menjadi sebuah petromaks yang berada di tengah sawah kala senja
aku ingin menjadi orang berguna disekelilingku, dengan segala keterbatansanku
aku akan menjadi orang yang pertama bahagia ketika melihatmu bahagia
wahai laki-laki hebatku..
tenanglah, aku akan baik-baik dengan segala perasaan yang ada
karna dalam diampun aku dapat mencintaimu dengan sempurna
Senin, 23 September 2013
mengenang 100 hari
untukmu laki-laki hebatku. iya untukmu..
seorang laki-laki yang kukenal lebih dari 4 tahun yang lalu yang penuh ambisi dan semangat tinggi untuk meraih cita-cita untuk membuat bangga keluarganya. Seorang lelaki yang rela mengorbankan hatinya demi membanggakan keluarga. Jujur sejak mengenalmu, aku bangga terhadapmu. Aku suka caramu mencintai Allah, aku suka caramu memperlakukanku, aku suka cara pemikiranmu. Manusia itu memang tidak ada yang sempurna, termasuk kamu. Tapi entahlah, mungkin aku telah terhipnotis oleh auramu sehinnga dari 3 tahun yang lalu sampai sekarang aku selalu bisa menerima segala tingkahmu yang terkadang mengesalkan. Dan lagi lagi aku selalu dapat memaafkan meski kamu tak mengucapkannya. Kamu itu hebat, memiliki semangat yang tak pernah luntuh untuk menggapai cita-citamu. Aku ingat dengan jelas ketika kamu bilang, " aku ingin punya rumah yang besar ada kebunnya yang luas pula. aku juga ingin berpenghasilan 10jt/bulan". Dan keinginan-keinginanmu yang lain masih terekam diotakku. ya, suatu hari nanti kamu pasti bisa!
Terkadang aku iri padamu, melihat semangatmu yang terus membara sedangkan semangatku suka pergi tanpa izin. Aku iri padamu yang sibuk dengan kegiatan-kegiatan organisasi dikampusmu sedangkan aku tak tertarik dengan kegiatan di kampusku. Aku lebih suka kegiatan di luar kampus yang menurutku lebih mengena pada masyarakat langsung. Aku suka jengkel kala kamu sibuk dengan kegitanmu, sedangku menunggu handpone-ku berbunyi dengan harap cemas itu kabar darimu. Sejak kejadian 100 hari yang lalu, tanpa sengaja kamu berhasil membuatku galau disetiap matahari terbenam. Tak satu haripun kulewatkan tanpa menunggu kabar darimu pada jam itu. Aku sengaja tak memberimu kabar apapun tentangku, berharap kamu akan menanyakan. Tapi harapan yang terus aku dapat. Mungkin kamu sudah lelah seharian beraktifitas, sehingga lupa menanyakan kabarku. Atau mungkin kamu selalu menganggap aku baik-baik saja dan mungkin kenyataan pahitnya memang tak ada yang perlu dibahas diantara kita.
Dengan berjalannya waktu kita seperti berada dipersimpangan jalan, dan kamu memilih untuk berlari duluan meninngalkanku dipersimpangan tanpa ada jejak darimu. Kemana harusku melangkah? haruskah aku menunggumu disini, ditempat yang sama kala kamu meninggalkanku? Tapi hidupku harus berjalan, aku harus menentukan langkahku. Yaa aku terus berjalan dengan bayanganmu, berharap ada persimpangan lagi yang mempertemukan kita di waktu yang tepat dengan keadaan yang lebih baik. Semoga..
seorang laki-laki yang kukenal lebih dari 4 tahun yang lalu yang penuh ambisi dan semangat tinggi untuk meraih cita-cita untuk membuat bangga keluarganya. Seorang lelaki yang rela mengorbankan hatinya demi membanggakan keluarga. Jujur sejak mengenalmu, aku bangga terhadapmu. Aku suka caramu mencintai Allah, aku suka caramu memperlakukanku, aku suka cara pemikiranmu. Manusia itu memang tidak ada yang sempurna, termasuk kamu. Tapi entahlah, mungkin aku telah terhipnotis oleh auramu sehinnga dari 3 tahun yang lalu sampai sekarang aku selalu bisa menerima segala tingkahmu yang terkadang mengesalkan. Dan lagi lagi aku selalu dapat memaafkan meski kamu tak mengucapkannya. Kamu itu hebat, memiliki semangat yang tak pernah luntuh untuk menggapai cita-citamu. Aku ingat dengan jelas ketika kamu bilang, " aku ingin punya rumah yang besar ada kebunnya yang luas pula. aku juga ingin berpenghasilan 10jt/bulan". Dan keinginan-keinginanmu yang lain masih terekam diotakku. ya, suatu hari nanti kamu pasti bisa!
Terkadang aku iri padamu, melihat semangatmu yang terus membara sedangkan semangatku suka pergi tanpa izin. Aku iri padamu yang sibuk dengan kegiatan-kegiatan organisasi dikampusmu sedangkan aku tak tertarik dengan kegiatan di kampusku. Aku lebih suka kegiatan di luar kampus yang menurutku lebih mengena pada masyarakat langsung. Aku suka jengkel kala kamu sibuk dengan kegitanmu, sedangku menunggu handpone-ku berbunyi dengan harap cemas itu kabar darimu. Sejak kejadian 100 hari yang lalu, tanpa sengaja kamu berhasil membuatku galau disetiap matahari terbenam. Tak satu haripun kulewatkan tanpa menunggu kabar darimu pada jam itu. Aku sengaja tak memberimu kabar apapun tentangku, berharap kamu akan menanyakan. Tapi harapan yang terus aku dapat. Mungkin kamu sudah lelah seharian beraktifitas, sehingga lupa menanyakan kabarku. Atau mungkin kamu selalu menganggap aku baik-baik saja dan mungkin kenyataan pahitnya memang tak ada yang perlu dibahas diantara kita.
Dengan berjalannya waktu kita seperti berada dipersimpangan jalan, dan kamu memilih untuk berlari duluan meninngalkanku dipersimpangan tanpa ada jejak darimu. Kemana harusku melangkah? haruskah aku menunggumu disini, ditempat yang sama kala kamu meninggalkanku? Tapi hidupku harus berjalan, aku harus menentukan langkahku. Yaa aku terus berjalan dengan bayanganmu, berharap ada persimpangan lagi yang mempertemukan kita di waktu yang tepat dengan keadaan yang lebih baik. Semoga..
Langganan:
Komentar (Atom)

